Postingan

Menampilkan postingan dengan label #KampusFiksi

Tas Baru

“Hei, tunggu!” Suaramu sekonyong-konyong merantai hati dan langkah kaki . Lantas, bisaku jadi bisu. Kakiku jadi kaku. Waktu mati . Semesta pergi . Hanya aku dan kau dalam ruang tanpa batas. Derap-derap langkahmu itu mulai mendekat namun bagi kita ukuran mili telah berubah menjadi tahun cahaya . Tidak pernah ada lagi dekat dengan dengan definisi yang sama. Tidak akan pernah ada. “Kamu melupakan sesuatu,” katamu. Aku ingin tertawa mendengar perkataanmu. Andai kau tahu tidak tersisa seperseribu tetespun kata lupa dalam memoriku. Aku ingat semuanya, walau katanya kenangan bak buih yang bisa menguap tanpa jejak . Hatiku menggedor-nggedor batin untuk tegas menolak lupa. “Lupa?” sindirku. “Ya, kamu lupa membawa tasmu.” Aku sangat ingin berbalik. Namun, aku lebih takut apa yang akan kulihat nanti, wajahmu yang memikat seperti malaikat . Lalu, aku akan melihat mulut kecilmu yang selalu bisa menampung milyaran kata manis tanpa pernah habis. Tidak! Batinku belum sekuat itu, dia...

The Nail

            Tidak semua arkeolog menyukai bau masa lalu. Baginya, selalu ada kontradiksi tentang keambiguan masa dalam nuraninya. Sebagian hatinya dengan tegas menutup masa itu rapat-rapat. Sebagian lagi justru seakan mengamuk siap mengobrak-abrik pintu berlapis yang susah payah ia bangun.                      Hari itu di tengah Teluk San Fransisco, ia merasakan perang batinnya memuncak. Mukanya pias. Ada sesuatu yang tertangkap indera perasanya. Anehnya, seberapapun ia mencari jawab, selalu berujung pada tanda tanya yang sama. Seakan tersesat dalam sebuah labirin dan tidak pernah menemukan jalan pulang.                     “Hey, Bob! Are you okay?” Celetukan rekan setimnya itu memecah konsentrasinya.                    “Ya, aku baik, Jane,” ...

Tuan Tak Bernama

                 “Apa artinya malam minggu, bagi orang yang tidak mampu…” Alunan lagu dangdut lama itu menggema di dinding kamarku. Mendengar suara si Raja Dangdut memang sudah jadi ritual wajib. Seolah jika kulewatkan satu malam Minggu saja tanpa memutarnya, tembok kamarku bisa berubah menjadi sebuah mulut raksasa yang siap menelanku tanpa sisa. Oh, ya! Malam minggu menyapa lagi. Dalam berbagai bentuk dan rupa seperti biasa. Senyuman lebar untuk mereka yang punya cinta dan terlaksana. Senyum miris kepada mereka yang tidak punya tangan seseorang untuk digenggam sepanjang malam. Kalau aku? Tentu saja jenis makhluk yang kedua. Katanya setiap orang lahir dengan membawa rezekinya sendiri. Kalau kataku, aku lahir dengan kutukanku sendiri. Oke. Mungkin kau tidak percaya, kan? Tapi aku punya bukti tentu saja. Umurku sudah berkepala dua dan selama itu pula aku tidak pernah mendapat tawaran genggaman hangat seseorang. Tak sekalipun.  Banyak...