Alice Not in Wonderland


            Hanya beberapa menit setelah tombol televisi menyala, gadis itu membuang muka. Mual itu datang, bukan perutnya tapi hati nuraninya yang teraduk bukan main. Dari semua kilasan berita yang dia rekam melalui mata dan telinganya, nyatanya berita itu konstan. Bahkan, kalau saja berita tersebut bisa dimatematiskan, kemungkinan akan menyaingi popularitas angka tetapan untuk phi atau angka tetapan lain dalam Fisika.
Namanya Alice, bermata sipit seperti bulan sabit. Rambutnya hitam seperti malam. Peringainya riang seperti siang. Impian hidupnya hanya satu, berhenti tumbuh dewasa seperti Peterpan. Tak pernah absen berdoa agar dirinya menjadi Alice yang ‘salah’. Menganggap kelinci adalah hewan paling berbahaya di muka bumi. Kenapa? Karena Alice dan kelinci berdasi berarti satu kata, Wonderland. Wonderland berarti Ratu Merah –ratu jahat dalam dongeng Alice in Wonderland-. Ratu Merah berarti Jabberwocky -naga dalam dongeng Alice in Wonderland-. Jabberwocky berarti sebuah ketakutan besar. Matanya memejam secepat kilat. Mengingat sedikit saja bagian dongeng itu, membuat bulu kuduknya berdiri. Diseretnya bantal Hello Kitty yang tergeletak di kasur ke dalam pelukannya. Setidaknya dia tidak akan melawan gagahnya ketakutan sendirian.
***

Ratu Merah berkepala besar itu marah. Sebuah kue dengan saus stroberi dinyatakan hilang. Sontak dia berteriak kesetanan. Suaranya menusuk ke setiap bagian istana.
“KUE STROBERI TELAH HILANG!!! Apa kau mencurinya?” teriak Ratu merah di dalam aula. Di sana, pengawalnya sudah berbaris seperti semut. Siap dihakimi oleh sang Ratu. Diinterogasi satu per satu.
“Apa kau mencurinya? Apa kau mencurinya?” Kalimat yang sama terus menggaung di dalam aula itu. Tembokpun sampai bosan. Tiba-tiba saja sepatunya berdecit seperti rem. Berhenti tepat di depan seorang pengawalnya. “Apa kau mencurinya?” tanyanya untuk yang kesekian kali. Kali ini dengan nada yang sedikit lebih lembut.
“Tidak yang mulia,” jawab si pelayan.
Ratu merah memicingkan matanya, mendekatkan wajahnya lalu memandang pelayan itu lekat. Jari itu lantas menjentik, mengusap pinggir bibir sang pelayan. Setitik krim stroberi sekarang berpindah di jari sang Ratu. Kontan pelayan itu membatu. Nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada guna meminta ampun.
“Penjaga! PENGGAL KEPALANYA!!!” perintah sang Ratu.
Tabiat Ratu Merah memang tidak pernah berubah. Dia tidak akan ragu untuk menghukum mati siapa saja yang berani melawan perintahnya. Termasuk seseorang yang mengaku sebagai pelayannya namun malah mencuri barang majikannya.

***


 Bantal Hello Kitty masih dalam pelukan, berita dalam layar masih berkata-kata. Di Indonesia, korupsi agaknya bagai jamur di musim penghujan. Merajalela. Gadis itu muak pada puncaknya. Untuk pertama kali, Alice berharap bertemu dengan kelinci berdasi yang bisa berbicara. Menyeretnya ke sebuah lubang dan sampai ke negeri di bawah sana. Wonderland. Jabberwocky bukanlah tujuannya, melainkan Ratu Merah. Dia ingin menculiknya sebentar saja. Mungkin sang Ratu bisa membantu menghukum mati para ‘pelayan’ di Indonesia. Sebagai imbalannya, Alice rela menghabiskan waktunya untuk mengecat bertangkai-tangkai mawar putih menjadikannya merah sempurna. Namun, sepertinya Tuhan mengabulkan doanya. Dia menjadi Alice yang ‘salah’. Wonderland hanya untuk Alice yang tepat dan dirinya tetap terjebak seperti burung dalam sangkar bernama Indonesia.

Komentar

  1. Balasan
    1. Terimakasih Disa :) Maaf komennya baru kebales sekarang. Makasih juga sudah mampir :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Happy birthday Gagas!

Perempuan yang Menanggung Dunia dan Seisinya: Bukit Kesengsaraan

It's Okay to Cry, It Makes Us Human