Perempuan yang Menanggung Dunia dan Seisinya: Padang Kesedihan

 

   

Napasnya memberat. Ia sadar bahwa kesengsaraan yang baru saja ia gendong bukan hanya membebani tubuhnya tapi juga jiwa perempuan itu. Tak apa, katanya pada dirinya sendiri. Kesengsaraan yang ia tanggung tidak sebanding dengan kebahagiaan yang telah ia bagi pada Si Kura-kura Tua. Dalam imajinasinya, ia seolah bisa melihat lengkung bibir Si Kura-kura tua yang dengan bebas menyelam lautan luas tanpa perlu lagi memikirkan cangkang yang membelenggunya. Sekali lagi, ia yakin pilihannya tidak mungkin salah.

    Di balik punggung kesengsaraan, ia telah meninggalkan bukit yang pohonnya mungkin akan tumbuh saat rintik hujan lokal menyiram langit gunung. Sedang di hadapannya kini, ia dapat melihat sebuah tempat yang luas. Anak perempuan itu lantas menyimpulkan bahwa ia telah sampai pada pemberhentian selanjutnya. Ya, ia telah menapaki Padang Kesedihan. Entah cerita sedih macam apalagi yang akan ia dengarkan kali ini. Ia harus mempersiapkan diri.

    Padang itu sangat berisik. Terdengar suara gema yang memantul dari pinggir tebing di sekitar padang. Kecepatan udara yang tak bisa menandingi cepat rambat suara itu lantas membuatnya menjadi semakin sumbang. Kadang suara itu terdengar seperti rintihan, kadang seperti tangisan dan beberapa kali mirip seperti ratapan. Anak Perempuan itu dengan rasa penasaran yang ada di dadanya, kembali memberanikan diri mencari sumber suara yang sudah memenuhi padang seluas itu.

    Saat itulah ia bertemu dengan seekor serigala. Matanya sipit dan terlihat sedih. Seolah-olah dari mata kecil itu telah mengalir deraian air mata hingga habis tak bersisa. Anak perempuan itu memberanikan diri untuk mendekati Si Serigala. Di ujung auman nya yang panjang, anak perempuan itu menyela dengan suaranya yang lantang.

    "Tuan Serigala, suara aumanmu seperti lolongan panjang. Aku bisa merasakan ada kesedihan dan ratapan pada setiap nadanya. Apakah kau baik-baik saja, Tuan?"


    Serigala itu terdiam, memberikan jeda untuk aumannya atau mungkin lebih tepatnya untuk kesedihan hatinya. 

    "Tuan, sepertinya kesedihanmu teramat dalam hingga kau terpenjara dalam diam. Jika saja kau bisa  menceritakan sedikit aumanmu itu, kesedihanmu mungkin akan berkurang, hatimu akan jadi lebih ringan," sambung Si Anak Perempuan.


    "Auuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu..................."


    Lolongan panjang Si Serigala menjadi satu-satunya jawaban untuk Si Anak Perempuan. Dalam kebingungannya itu, muncullah  Bung Lon yang berwarna merah muda. Ia menghampiri Si Anak Perempuan.

    "Pertanyaanmu itu tidak akan pernah ia jawab," celetuknya.

    Dahi perempuan itu berkerut. Ia kebingungan. Serigala itu pastilah sangat sedih. Kata-kata sedih manapun tidak bisa membahasakan kepiluan hatinya.

    Si Anak Perempuan lalu bertanya kepada Bung Lon, "Sedalam itukah kesedihannya?"

     "Ya. Bercerita sama saja dengan menikam hatinya sekali lagi. Percayalah, ia tak sanggup untuk itu, " jawab Bung Lon.

       Si Anak Perempuan terlihat diam. Ia sibuk mencari cara agar bisa mendengar kisah yang memilukan hati Si Seragala.

      "Ia patah hati," kata Bung Lon tiba-tiba.

     Si Anak Perempuan memutar bola matanya. Sepertinya, ia akan mendapatkan jawaban pertanyaannya bukan dari si empunya cerita.

    Bung Lon melanjutkan ceritanya. Dahulu kala, padang yang ia pijak saat ini adalah sebuah lautan yang luas. Di sana hidup berbagai binatang laut, salah satunya adalah seekor Gurita yang sangat cantik. Wajahnya bersemu merah muda. Tangannya yang lembut menari-nari dalam irama ombak. Setiap hari, Serigala itu rela turun naik gunung agar bisa berjumpa dengan si Gurita.

    Gurita sangat menyukai suara lengkingan Serigala. Baginya, suara itu bahkan lebih merdu dari suara ombak yang membuatnya ingin menari. Suara itu sudah berhasil mengajak hatinya berlari. Sedang Si Serigala, ia jatuh cinta pada kelembutan Gurita. Di sela-sela hidupnya yang penuh dengan cakar dan taring, ia sadar hatinya sudah takluk dalam senyum makhluk lembut dalam laut itu.
    Begitu saja kisah mereka terjalin. Indah seperti kebanyakan kisah cinta. Sampai pada suatu hari, Raja Lautan mendengar kisah cinta Gurita dan Serigala. Ia murka. Baginya, tidak akan pernah ada cerita cinta antara lautan dan daratan. Lalu, Raja itu bertitah untuk memindahkan laut jauh ke bawah gunung di mana sampai kapan pun Serigala tak kan menemukannya.

    Bung Lon menghela napas. Anak perempuan itu tampak antusias mendengar kelanjutan cerita Bung Lon.
    Sampai pada bagian laut itu menghilang dalam semalam. Yang tertinggal hanya padang gersang, tandus dan penuh debu. Saat keesokan harinya Serigala itu tiba, tempat itu sudah berubah. Tidak ada lagi ombak yang menyapu cakarnya, tidak ada lagi derit karang yang sumbang. Tidak ditemukannya lagi Gurita, kekasih sejatinya.

    Sejak saat itu, Serigala hanya bisa mengaum menyuarakan kesedihannya. Berharap di ujung kaki Gunung sana, Gurita mendengar lolongan itu dan mengetahui bahwa cintanya belum berakhir. Lebih tepatnya, tidak akan berakhir.

    "Aku sudah mencoba menghiburnya. Kau tahu, Nona. Merah muda bukannlah gayaku. Tapi, aku ingin melihat seringainya sekali lagi," ucap Bung Lon menyudahi kisah cinta Serigala dan Gurita.
      Si Anak Perempuan itu hanya diam. Lalu, ia bergegas mendatangi Si Serigala yang masih mengaum pilu. Tanpa diduga, Si Anak Perempuan ikut bersuara. Membuat auman demi auman berharap bisa membantu menyampaikan rasa rindu Serigala pada Gurita.

    "Wahai Serigala yang patah hati, akan aku tinggalkan suaraku bersamamu. Aku ingin kau mengaum lebih keras lagi untuk kekasihmu, " ucap Si Anak Perempuan itu.

     
Bung Lon yang mendengar ucapan perempuan itu kaget. Begitupun dengan Serigala yang untuk pertama kalinya berhenti mengaum.
        

      "Apa kau yakin, Nona?" tanya Si Serigala.

      "Tidak pernah seyakin ini, " jawab Si Anak Perempuan.
        

   Bung Lon hanya menggeleng. Si Anak Perempuan itu tersenyum. Lalu melangkah pergi setelah meninggalkan sebuah kotak suara untuk Serigala.


BERSAMBUNG .......

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Happy birthday Gagas!

Perempuan yang Menanggung Dunia dan Seisinya: Bukit Kesengsaraan

REVIEW BUKU SEMUA IKAN DI LANGIT: MENGENAL TUHAN DALAM SOSOK BELIAU