It's Okay to Cry, It Makes Us Human

 We never know someone's else story.

Di masa lalu, saya pernah menjadi seseorang yang sangat gampang untuk menghakimi orang lain dengan ribuan spekulasi dalam kepala saya. Tidak pernah sedikitpun saya memikirkan perasaan orang lain tersebut. Saya selalu memandang dari sisi yang saya yakini tanpa pernah berpikir bahwa bumi ini adalah sebuah dimensi tiga. Berputar 360 derajat dan saya tentu saja tidak bisa melihat seluruhnya. 

Saya percaya bahwa setiap manusia mempunyai kisahnya sendiri. Ia berkonflik dan tertatih menapaki setiap alur hidup yang mungkin saja jauh dari yang mereka inginkan. Terkadang hidup menyodorkan tawaran yang sangat sulit untuk mereka pilih. Bukan karena terlalu banyak pilihan tentu saja, namun pilihan manapun yang manusia itu pilih, tetap saja hidup menempatkannya pada jalan pahit yang membuatnya sakit. Dan saat kita menemukan orang itu di ujung jalan dengan nanah, seringkali kita hanya merasa jijik dan ingin segera mengenyahkan penyakit kotor tersebut. Namun, kita lupa bahwa nanah itu berasal dari luka yang sama sekali tidak kita ketahui bagaimana ia bisa ada

Hari ini saya bertemu dengan seseorang untuk kali pertama. Orang itu tampak biasa saja seperti kebanyakan siswa yang saya temui. Yha, saya seorang guru di sebuah sekolah menengah. Awalnya, pertemuan kami hanya membahas tentang tugas yang harus ia kumpulkan.

Lalu, saya mengajak dia berbicara terkait dengan laporan akademik. Tentang nilainya yang kosong.

Saya bilang, saya ingin mendengarkan cerita versi dia. 

Murid saya itu menunduk lalu mengelap ujung-ujung matanya. 

Dia bercerita sepatah demi sepatah.

Dia bercerita tentang hidup yang tidak pernah saya alami, tentang hidup yang saya kira hanya ada dalam cerita di TV ataupun dalam cerita buku.

Saat dia menangis, saya hanya diam. Membiarkan dia melepas semuanya, sepertinya ia tidak pernah menangis sebelum ini.

Saya hanya bilang,

tidak apa-apa. menangis saja. laki-lakipun tidak apa kalau menangis. Sedih, kecewa, terluka itu milik semua orang, kan? 

Jangan ditahan, jangan dipendam sendirian.


Jadi guru membuat saya bukan banyak mengajar tapi malah sebaliknya. Saya belajar banyak sekali dari murid-murid. Dari cerita-cerita mereka, dari tingkah laku mereka.

Saya belajar bagaimana bisa mendengar tanpa menghakimi.
Saya belajar untuk mengendalikan emosi dan membuang jauh idelalisme saya tentang hidup.
Saya belajar bahwa kata-kata yang keluar dari mulut saya bisa jadi akan menambah luka untuk mereka. Hingga mereka yakin bahwa di dunia ini tidak ada tempat yang aman untuk sekedar bercerita dan didengarkan. 

Saya ingin menyaksikan mereka tumbuh menemukan diri mereka sendiri, membukakan jalan menuju sembuh.


Jika ada yang membaca tulisan acak ini, saya minta didoakan, ya. Agar saya bisa terus belajar untuk mendengar dan melihat hidup dari perspektif lain.
Tanpa perlu menghakimi.
Apalagi menyakiti.

Hehehe

Dari Bu Ambar yang pengen mewek 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Happy birthday Gagas!

Perempuan yang Menanggung Dunia dan Seisinya: Bukit Kesengsaraan