The Nail

            Tidak semua arkeolog menyukai bau masa lalu. Baginya, selalu ada kontradiksi tentang keambiguan masa dalam nuraninya. Sebagian hatinya dengan tegas menutup masa itu rapat-rapat. Sebagian lagi justru seakan mengamuk siap mengobrak-abrik pintu berlapis yang susah payah ia bangun.        
             Hari itu di tengah Teluk San Fransisco, ia merasakan perang batinnya memuncak. Mukanya pias. Ada sesuatu yang tertangkap indera perasanya. Anehnya, seberapapun ia mencari jawab, selalu berujung pada tanda tanya yang sama. Seakan tersesat dalam sebuah labirin dan tidak pernah menemukan jalan pulang.        
            “Hey, Bob! Are you okay?” Celetukan rekan setimnya itu memecah konsentrasinya.       
            “Ya, aku baik, Jane,” jawabnya.

           “Tapi wajahmu pucat sekali. Apa kamu yakin baik-baik saja?” tanyanya khawatir.    
           “Jangan khawatir! Angin di sini dingin sekali, itu yang membuat wajahku pucat.”
            Alis Jane, gadis itu, mengkerut. Tidak pernah sekalipun ia dapati rekan setimnya yang terkenal tangguh itu pucat seperti zombie. Agaknya, Bob memang kurang enak badan atau malah paranoid dengan tempat ini lengkap dengan segala mitos dan takhayulnya.
            “Welcome to Alcatraz.” Audio mesin perekam mulai terdengar ketika tim arkeolog itu memasuki kawasan dalam Alcatraz. Di depan mereka, ruang kontrol dan ruang tunggu pengunjung tahanan terpampang nyata. Bob semakin pucat. Keringat dinginnya menyembul seperti burung camar yang bertengger pada Ferry Boat yang ditumpanginya beberapa menit lalu. Kakinya kaku. Mendadak gagu dan ragu. Alih-alih saat timnya menginjak ruang tahanan utama. Perasaan aneh itu semakin hebat menyergap.
            Matanya fokus pada deretan besi bulat penutup kamar tahanan yang dibuat berlapis untuk mengisolasi siapa saja yang pernah terkurung di dalamnya. Lantas merembet pada jendela berteralis sebesar jempol orang dewasa yang terbuat dari besi pula. Audio mesin perekam masih terdengar memberi penjelasan saat jemarinya menyentuh dinginnya pintu besi itu. Dirabanya setiap centi seakan mencari sesuatu yang tak kasat mata. Lalu, tangan itu beku. Menyetuh sebuah paku yang menancap tepat di tengah besi bulat penutup pintu.
            “Push it!” Sebuah bisikan terdengar bersama angin musim dingin yang menyergap.
            Tanpa pikir panjang, Bob menekan paku di hadapannya itu. Kemudian, dia merasakan dunia sekitarnya berputar. Cepat dan kasar. Setelah itu, putaran berhenti pada sebuah titik waktu di mana sel-sel Alcatraz penuh dengan wajah-wajah sangar. Bob Redbutter gusar. Ia mendapati dirinya berada dengan sekelompok orang yang sedang dirajam kesakitan.
            “Fucking hell!” teriak seorang yang baru saja mendapatkan cambukan di punggungnya. Tiba-tiba, Bob merasakan kakinya diseret secara paksa. Kemeja putih yang dikenakannya hilang entah kemana. Kini hanya cambukan yang ia rasa.
            Tubuhnya di lempar ke sudut ruang penjara dengan mereka yang badannya loreng kena cambuk siksa. Bukannya merasa jera, siksa itu menimbulkan dendam di hati mereka. Begitu pula di hati Bob. Tatkala tubuhnya tak berdaya, ia sadar ada sebuah paku di tangannya. Saat itulah terbesit ide gila. Ia bersama semua tahanan di Blok D Alcatraz merencanakan sebuah kudeta. Masing-masing disenjatai paku besi yang didapatnya dari pintu-pintu penjara. Lalu, malam itu mereka dengan brutal membantai sebagian sipir dan pengawas penjara.
            Malam itu pada bulan Mei 1877, sembilan orang narapidana melarikan diri dari sana. Namun, tidak sedikit pula yang tertembak meregang nyawa. Bob dengan pakunya adalah satu dari sembilan narapidana yang berhasil menyebrang Teluk Fransisco ke California.            

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Happy birthday Gagas!

Perempuan yang Menanggung Dunia dan Seisinya: Bukit Kesengsaraan

It's Okay to Cry, It Makes Us Human