Perempuan yang Menanggung Dunia dan Seisinya : Pucak Penghianatan (Bagian Akhir)

    Puncak semakin dekat namun jalanan semakin terjal. Perempuan itu dapat merasakan butiran pasir di sela-sela jemari kakinya. Butiran pasir ternyata bisa sangat merepotkan, pikirnya. Hampir saja ia tergelincir karena bebatuan kecil dan pasir yang ia pijak tidak sekokoh tanah di bawah sana.

     Saat keringat berhasil membuat seluruh badannya basah, perempuan itu akhirnya dapat melihat Puncak Penghianatan. Angin menyapa anak rambut yang ia biarkan terurai. Dengan matanya yang tinggal satu, perempuan itu mencari-cari di sudut manakah ia bisa temukan Gua tempat Sang Juru Cerita tinggal. Namun, ia tidak bisa melihat apapun kecuali bayangan hitam awan kumulo nimbus yang bertengger di atas langit sana. 

       Perempuan itu lantas duduk di atas sebuah batu. Ia terdiam begitu lama. Tidak ada yang mengganggu pikirannya selain ke mana ia harus mencari rumah Sang Juru Cerita. Aku tidak boleh diam saja, pikirnya. Lalu, ia memutuskan untuk mengelilingi Puncak Penghianatan itu. Sekali, dua kali, tiga kali, tetap tidak bisa ia temukan rumah Sang Juru Cerita. Ia kesal dan hampir menangis. Namun, ia memutuskan untuk terus berkeliling. Sampai pada putaran yang ke-99, ia akhirnya menyerah. Perempuan itu tersungkur sengaja membenamkan wajah kecilnya dalam tumpukan pasir. Seolah kesedihan dan kekecewaannya bisa terisap dalam sekejap. Ia ingin menangis sejadi-jadinya.

        Tapi, perempuan itu terkejut. Matanya tak bisa lagi mengeluarkan airmata. Telah habis ia bagi dengan Sang Ikan di kaki gunung. Ia juga terisak dalam diam. Suaranya telah hilang dan tidak ada satu makhlukpun yang bisa mendengar kesedihan hatinya. Satu-satunya yang ia punya hanyalah kesengsaraan yang ia gendong di balik punggungnya.

       Perempuan itu lalu merasa ia adalah manusia paling sengsara dan paling bodoh. Ia selalu saja mempedulikan hidup dan kesedihan orang lain. Hingga ia lupa untuk menjalani hidupnya sendiri. Ia merasa sangat putus asa. 

        "Tidak ada manusia yang tidak melakukan kesalahan, Anakku."

          Tiba-tiba terdengar suara menggelegar. 

          Perempuan itu kebingungan. Ia bertanya-tanya apakah suara itu milik Sang Juru Cerita.

        "Tengoklah ke atas, Nak. Aku berada tepat di atas sini."

           Bersamaan dengan suara itu, titik-titik air hujan turun menyentuh pipi Anak Permpuan itu.
        Perempuan itu hanya bisa menengadah, berharap kata hatinya bisa didengarkan oleh awan yang bergelung di atas langit.

        "Akan kugantikan air matamu dengan tetes hujan, akan kugantikan amarahmu dengan badai, akan kugantikan teriakanmu lewat kilat dan petir yang menyambar-nyambar," sambung Awan.
        Perempuan itu memejamkan sebelah matanya, merasakan setiap kesedihan air hujan yang mengalir deras lewat pipinya yang basah. Ia menikmati angin yang berputar-putar kencang. Ia juga mendengarkan suara petir paling merdu sepanjang hidupnya.

        Badai itu berlangsung lama hingga membanjiri seluruh bagian Gunung Wakiwaki dengan amarah dan kekecewaan.

        Sang Juru Cerita tidak pernah berhasil ia temukan. Tidak ada gua berdinding ingatan, berlantaikan kenangan dan beratap cerita.

        Perempuan itu berakhir menanggung kesengsaraan itu sendirian dalam gua yang tidak sengaja ia ciptakan.


            -TAMAT-       

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Happy birthday Gagas!

Perempuan yang Menanggung Dunia dan Seisinya: Bukit Kesengsaraan

It's Okay to Cry, It Makes Us Human