Postingan

The Nail

            Tidak semua arkeolog menyukai bau masa lalu. Baginya, selalu ada kontradiksi tentang keambiguan masa dalam nuraninya. Sebagian hatinya dengan tegas menutup masa itu rapat-rapat. Sebagian lagi justru seakan mengamuk siap mengobrak-abrik pintu berlapis yang susah payah ia bangun.                      Hari itu di tengah Teluk San Fransisco, ia merasakan perang batinnya memuncak. Mukanya pias. Ada sesuatu yang tertangkap indera perasanya. Anehnya, seberapapun ia mencari jawab, selalu berujung pada tanda tanya yang sama. Seakan tersesat dalam sebuah labirin dan tidak pernah menemukan jalan pulang.                     “Hey, Bob! Are you okay?” Celetukan rekan setimnya itu memecah konsentrasinya.                    “Ya, aku baik, Jane,” ...

I want or I will?

Bonsoir!! Selamat malam Indonesia! Akhirnya setelah berbulan-bulan tergoda dalam kemanisan drama, anime dan tugas berbisa sehingga harus vakum nulis *tear* saya kembali ke dalam garis edan eh edar saya yang sesungguhnya. Alhamdulillah masih ingat cita-cita! *benerin jilbab* Ngomong-omong soal cita-cita nih (bukan Cita Citata lho ya), saya pengin share pengalaman pribadi saya waktu diputusin sama pacar saya (ehh… bukan ini ngaco), maksudnya pengalaman saya bulan ini yang bikin saya senyum-senyum sepanjang perjalanan pulang kala itu. Tentu saja berkaitan dengan salah satu cita-cita saya. J

Tuan Tak Bernama

                 “Apa artinya malam minggu, bagi orang yang tidak mampu…” Alunan lagu dangdut lama itu menggema di dinding kamarku. Mendengar suara si Raja Dangdut memang sudah jadi ritual wajib. Seolah jika kulewatkan satu malam Minggu saja tanpa memutarnya, tembok kamarku bisa berubah menjadi sebuah mulut raksasa yang siap menelanku tanpa sisa. Oh, ya! Malam minggu menyapa lagi. Dalam berbagai bentuk dan rupa seperti biasa. Senyuman lebar untuk mereka yang punya cinta dan terlaksana. Senyum miris kepada mereka yang tidak punya tangan seseorang untuk digenggam sepanjang malam. Kalau aku? Tentu saja jenis makhluk yang kedua. Katanya setiap orang lahir dengan membawa rezekinya sendiri. Kalau kataku, aku lahir dengan kutukanku sendiri. Oke. Mungkin kau tidak percaya, kan? Tapi aku punya bukti tentu saja. Umurku sudah berkepala dua dan selama itu pula aku tidak pernah mendapat tawaran genggaman hangat seseorang. Tak sekalipun.  Banyak...

Alice Not in Wonderland

            Hanya beberapa menit setelah tombol televisi menyala, gadis itu membuang muka. Mual itu datang, bukan perutnya tapi hati nuraninya yang teraduk bukan main. Dari semua kilasan berita yang dia rekam melalui mata dan telinganya, nyatanya berita itu konstan. Bahkan, kalau saja berita tersebut bisa dimatematiskan, kemungkinan akan menyaingi popularitas angka tetapan untuk phi atau angka tetapan lain dalam Fisika. Namanya Alice, bermata sipit seperti bulan sabit. Rambutnya hitam seperti malam. Peringainya riang seperti siang. Impian hidupnya hanya satu, berhenti tumbuh dewasa seperti Peterpan. Tak pernah absen berdoa agar dirinya menjadi Alice yang ‘salah’. Menganggap kelinci adalah hewan paling berbahaya di muka bumi. Kenapa? Karena Alice dan kelinci berdasi berarti satu kata, Wonderland. Wonderland berarti Ratu Merah –ratu jahat dalam dongeng Alice in Wonderland-. Ratu Merah berarti Jabberwocky -naga dalam dongeng Al...

Glow (Gelo : re)

Temanggung, 27 Juli 2014 As-syamul Akbar Daun Mas Resto. Meja 12. Aku berada di sini, di tempat yang beberapa jam lalu hanya dapat kupijak dalam angan. Ya, begitu jauh! Bahkan bila ditempuh dengan kapal, bisa memakan waktu paling tidak dua hari dua malam. Namun, ajaib! Di sinilah aku sekarang. Di kota ini dan menunggu dia, orang yang mampu menahanku menunggu begitu lama sejak… Entahlah, aku rasa dua jam yang lalu.  Daun Mas Resto malam ini, tidak begitu ramai, sangat kontras dengan jalanan Suwandi Suwardi yang dibanjiri sepeda motor. Malam takbir memang selalu ramai, pikirku, tidak peduli di Ketapang ataupun di sini. Akhirnya, aku benar-benar melihat dia datang. Bola matanya berputar sejenak dan berhenti ketika tatapan kami bertemu satu sama lain.  “Aduuuuuh, nunggu lama ya, Mas? Maaf tadi macet…” katanya, memasang ekspresi manja agar aku lebih ikhlas karena benar-benar menunggunya selama ini.

TANGEN

Gambar
http://da.wikipedia.org/wiki/Trigonometrisk_funktion “Lukisan adalah mata dari pikiran para pelukisnya 1 ,” katanya, matanya berbinar menatap kanvas berukuran 60 x 100 cm di depan kami. Melukis di atas kanvas adalah hidupnya. Dan hari ini, hari pertama lukisannya dipamerkan di galeri.             Aku menyipitkan mata. Heran. Ternyata bisa bicara juga, ya! Bukankah selama berbulan-bulan ini, dia tidak pernah menganggapku ada? Dasar wanita! Tetap saja semaunya sendiri, tetap saja tidak bisa ditebak.             “Oh ya? Jadi, lukisan ini mata kamu?” tiba-tiba aku ikut tertarik dengan benda dua dimensi ini.             “Ya, kamu benar! Beberapa pelukis melukis apa yang mereka lihat di sekitar mereka dan yang lain melukis apa yang mereka lihat dalam imajinasi. Setiap lukisan memiliki tema, kamu tahu?” Dia benar-benar...

Ruang Rindu (terinspirasi dari lagu Ruang Rindu-Letto)

Daun-daun berwarna coklat yang terbakar sinar matahari itu berterbangan di antara kami. Sepertinya angin memang sengaja bertiup biar kesan pertemuan di tempat ini lebih dramatis. Dan agaknya aku memang harus berterima kasih. Hal itu berhasil. Sekonyong-konyong aku kaget dia berada di sini. Menjejakkan kakinya di bumi Sumatra, tepat di depan mataku. Dari ribuan pulau memesona di Indonesia, kenapa harus Sumatra yang dia pilih. Kenapa harus Lampung? Kenapa harus Way Kambas? Dan kenapa harus sekarang saat aku juga berdiri di tempat yang sama. Kami sama-sama diam, membatu bagai arca. “Hai nggak nyangka ketemu kamu di sini. Sama siapa?” tanyaku akhirnya. Dia berdeham. Agaknya menyadarkan diri bahwa yang dilihatnya benar-benar nyata. “Ikutan Adit,” jawabnya singkat. Ah, bodoh! Harusnya aku tahu pertanyaanku adalah sebuah retorika. Sudah jelas dia ke sini pasti membuntuti Adit, pacarnya yang gila travelling itu. “Oh…” sahutku sebiasa mungkin. “Pan, aku duluan ya. Mau bantuin Ad...